
Siswa SMA Wahid Hasyim saat mengikuti Ekstra Musik
SMADEL LAMONGAN – Ekstrakurikuler musik di SMA Wahid Hasyim Model (Smadel) tidak hanya menjadi ajang mengasah bakat bermusik, tetapi juga menjadi ruang aman bagi siswa untuk berekspresi, membentuk karakter dan empati di tengah arus digital dan padatnya pembelajaran. Bahkan mengikuti ekstra ini, tergolong salah satu alternatif untuk mengobati stres.
Pembina Ekstrakurikuler Musik Smadel, Pak Rozak mengutarakan, bahwa musik bisa menjadi media katarsis paling efektif di tengah derasnya arus media sosial yang kerap menjadi sumber tekanan bagi remaja.
Sehingga tidak salah jika beliau menginginkan siswa Smadel menjadikan ekstra musik ini sebagai sarana melepas penat. Ditambah lagi, melalui ekstra yang berkenaan dengan bunyi indah ini, anak-anak di Smadel bisa mengekspresikan diri dengan baik.
“Motivasi terbesar saya itu sederhana, ingin memberi ruang buat anak-anak berekspresi. Anak jaman sekarang itu tekanannya lumayan tinggi, terutama dari arus media sosial. Nah, lewat musik ini, mereka punya sarana untuk melepas penat sekaligus berkreasi,” ujar Pak Rozak saat ditemui di sela latihan rutin, pekan ini.
Untuk menjaga antusiasme siswa, Pak Rozak tidak menerapkan metode pembelajaran yang kaku dan penuh teori. Justru sebaliknya, yakni dia menerapkan pendekatan student-centered learning atau pembelajaran yang berpusat pada minat siswa.
“Saya lebih suka pakai pendekatan yang berpusat pada minat siswa. Daripada memaksakan teori, saya biasanya tanya dulu ke mereka, ‘Kalian lagi sering dengarkan lagu apa?’. Dari lagu kesukaan mereka itu, baru kita pelajari chord, nada, dan ketukannya. Intinya saya mau mereka merasa seru dan tidak merasa seolah-olah sedang dipaksa untuk belajar,” jelasnya.
Metode itu menurut pak Rozak terbukti membuat siswa lebih menikmati proses latihan. Hanya saja tantangan utamanya tidak terletak pada penguasaan teknik, melainkan pada aspek psikologis.
“Tantangan terbesarnya adalah menghadapi rasa kurang percaya diri mereka,” bebernya.
Disinggung soal prestasi siswa ekstra musik, dia menjawab, jika kesuksesan sebuah ekstrakurikuler tidak diukur dari piala kejuaraan semata. Tetapi juga dari perkembangan siswa saat mengikuti ekstra itu. Maka itu, ia memiliki indikatornya sendiri dalam melihat perkembangan anak didiknya.
“Perkembangan itu terlihat kalau mereka sudah mulai percaya diri, bisa main bareng, dan bisa memasukkan penjiwaan atau emosi ke lagu yang dimainkan. Kalau mereka sudah menikmati permainan dan berani berkreasi secara spontan, menurut saya itu sudah pencapaian yang luar biasa,” tuturnya.
Ia juga menekankan, nilai pendidikan dari musik jauh melampaui notasi. Musik adalah laboratorium karakter.
“Sangat penting. Musik itu mengajarkan karakter dan kepekaan sosial yang susah didapat dari buku pelajaran. Saat main musik bareng, mereka belajar empati, sabar, dan kerja sama tim. Mereka belajar menghargai peran orang lain di dalam sebuah kelompok,” tegas Pak Rozak.
Di era digital yang serba canggih, kata pak Rosak lebih lanjut menguraikan, pihaknya belum menggunakan banyak teknologi atau aplikasi musik dalam latihan. Hal itu dikarenakan siswa yang tergabung ke ekstra musik sedang difokuskan pada akustik dan kepekaan.
“Untuk saat ini saya belum terlalu banyak menggunakan teknologi atau aplikasi musik dalam latihan. Alasannya karena sekarang kita masih fokus bermain di ranah akustik. Saya ingin anak-anak melatih kepekaan telinga dan perasaan mereka secara alami terlebih dahulu,” imbuh dia.
Ke depan, beliau berharap eksistensi ekstrakurikuler musik mendapatkan tempat yang lebih terhormat di lingkungan sekolah.
Diharapkan Pak Rozak, ekstra musik mampu menjadi wadah yang berkembang, dan menjadi tempat yang lebih nyaman bagi siswa ketimbang sekarang.
“Harapan saya, ekstrakurikuler musik selalu bisa menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan dan karakter,” tutupnya.
Penulis: Bagas Candra Prawira
Editor: Fauzi
